CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS REPRESENTASI PERLAWANAN MELALUI SIMBOL BRAVE PINK DAN HERO GREEN DALAM KOMUNIKASI DIGITAL

Authors

  • Ramita Hapsari Akademi Komunikasi Media Radio dan TV Jakarta
  • Lifia Greacela Pattireuw Akademi Komunikasi Media Radio dan TV Jakarta
  • Mufni Alida Akademi Komunikasi Media Radio dan TV Jakarta

Keywords:

Brave Pink, Hero Green, Analisis Wacana Kritis, Perlawanan Digital , Representasi Visual

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena Brave Pink dan Hero Green sebagai bentuk representasi perlawanan dan solidaritas sosial dalam komunikasi digital. Fenomena ini muncul pasca unjuk rasa besar di Indonesia pada Agustus - September 2025, ketika warna pink dan hijau diadopsi oleh pengguna media sosial X untuk menyuarakan kritik sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membongkar bagaimana simbol visual warna dikonstruksi, dimaknai, dan direproduksi sebagai medium perlawanan ideologis. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan paradigma kritis, penelitian ini mengaplikasikan Critical Discourse Analysis model Teun A. Van Dijk yang mengintegrasikan tiga dimensi utama, yaitu dimensi teks, kognisi sosial, dan konteks sosial, serta diselaraskan dengan Teori Representasi Stuart Hall. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan pada platform X, dokumentasi unggahan visual, serta wawancara semi terstruktur dengan pencetus simbol dan pengguna aktif. Hasil penelitian pada dimensi teks menunjukkan bahwa Brave Pink dan Hero Green dikonstruksi secara multimodal melalui kombinasi warna, tipografi, slogan, emoji, dan tagar yang membentuk oposisi biner antara sikap diam dan keberanian bersuara. Pada dimensi kognisi sosial, simbol lahir dari proses seleksi dan interpretasi subjektif pencetus terhadap realitas peristiwa mengubah asosiasi warna pink dari kelembutan feminin menjadi kekuatan moral keberanian, serta warna hijau (Hero Green) sebagai penghormatan atas perjuangan rakyat dan pekerja. Pada dimensi konteks sosial, simbol diproduksi ulang oleh pengguna X sehingga berkembang dari makna personal menjadi identitas kolektif. Penggunaan simbol ini membentuk relasi kuasa antara "rakyat" sebagai kelompok tertekan yang bersolidaritas dan "penguasa" sebagai struktur dominan.  Secara teoritis, penelitian ini membuktikan bahwa warna bukan sekadar elemen estetika netral, melainkan media representasi politik, tanda ideologis, dan bentuk perlawanan simbolik di ruang publik digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa warna tidak sekadar berfungsi sebagai elemen estetika, melainkan telah bertransformasi menjadi bahasa visual, sarana resistensi simbolik, dan alat pembentuk solidaritas digital di ruang publik modern. Penelitian ini menyarankan pentingnya peningkatan literasi digital masyarakat dalam membedah makna dan relasi kuasa di balik simbol-simbol visual.

References

Anita. (2024). Representasi perempuan dalam media sosial. Jakarta: Jurnal Komunikasi dan

Media.

Ayuningrum. (2024). Konstruksi makna dan perlawanan di ruang digital. Yogyakarta: Pustaka

Media.

Castells, M. (2007). Communication, power and counter-power in the network society.

International Journal of Communication, 1(1), 238–266. Los Angeles: USC Annenberg Press.

Castells, M. (2013). Communication power (2nd ed.). Oxford: Oxford University Press.

Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S. (2018). The SAGE handbook of qualitative research (5th ed.).

Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Hall, S. (1973). Encoding and decoding in the television discourse. Birmingham: Centre for

Cultural Studies, University of Birmingham.

Jenkins, H. (2006). Convergence culture: Where old and new media collide. New York: New

York University Press.

Lestari. (2024). Simbol visual dan pembentukan kategori pemahaman di media digital.

Bandung: Karya Aksara.

Mukhlis. (2025). Analisis wacana kritis Teun A. Van Dijk dalam gerakan sosial digital. Jakarta:

PT RajaGrafindo Persada.

Ratnaduhita. (2024). Praktik representasi visual pada media sosial. Jurnal Representamen,

(1), 45–58. Jakarta: Akademi Komunikasi Media Radio dan TV Jakarta.

Ratnaduhita, et al. (2025). Representasi dan ideologi dalam komunikasi massa. Jakarta:

Kencana.

Rendervoux. (n.d.). Rendervoux [Profil X]. X. https://x.com/rendervoux

(2022). Representasi visual dan relasi kuasa dalam kampanye publik. Surabaya:

Insan Cendekia.

Suratman, et al. (2025). Makna warna dan muatan ideologis dalam komunikasi massa. Depok:

Rajawali Pers.

Yusuf, & Sobur. (2025). Metodologi penelitian kualitatif dalam studi komunikasi. Bandung:

PT Remaja Rosdakarya.

Downloads

Published

2026-09-28

Issue

Section

Articles

How to Cite

CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS REPRESENTASI PERLAWANAN MELALUI SIMBOL BRAVE PINK DAN HERO GREEN DALAM KOMUNIKASI DIGITAL. (2026). Jurnal Ilmu Komunikasi, 16(2), 68-82. https://jurnal.akmrtv.ac.id/jik/article/view/474